WASPADA DBD, FOGGING TIDAK MAMPU MENCEGAH

Admin Kamis, 15/12/2016 Internal 674 hits

Paringin - Waspadai musim penghujan,jangan sampai hadirnya hujan menjadi faktor pemicu timbulnya bencana baru yaitu wabah penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) seperti tahun-tahun sebelumnya.


Meskipun banyak penyakit mengancam di sepanjang tahun, tampaknya musim penghujan adalah saat di mana tubuh manusia harus beradaftasi secara lebih di musim tersebut, sehingga menjadi sangat rentan terserang penyakit. Dan di musim penghujan, Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah salah satu dari sekian banyak penyakit yang mengintai.  

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan H.A. Nasa'i, S.Kep, MM yang ditemui diruang kerjanya di Paringin, Kamis (15/12/2016) mengungkapkan, kondisi aman terhadap ancaman wabah penyakit DBD di wilayah kita masing-masing, sangat ditentukan oleh partisipasi masyarakat dalam mengantisipasi keadaan tersebut dengan pro aktif dalam menciptakan lingkungan yang bersih, sehingga tidak ada tempat lagi bagi nyamuk pembawa penyakit demam berdarah (Aedes aegypti) untuk berkembang biak.  

"Kebersamaan masyarakat untuk menjadikan dan menjaga kebersihan lingkungannya, menjadi kunci utama mencegah penularan Demam Berdarah, karena tempat yang tidak bersih berpotensi menciptakan genangan-genangan air yang menjadi tempat perkembang biakan nyamuk penular," ungkapnya.

Ditambahkannya, fogging atau pengasapan memang diyakini cukup ampuh membunuh nyamuk aedes aegypti sehingga kemungkinan orang tergigit nyamuk ini pun semakin kecil, namun tindakan ini hanya ampuh untuk membunuh nyamuk yang telah dalam  fase dewasa.Sayangnya, nyamuk aedes aigypti mengalami 4 fase kehidupan yakni telur, larva, pupa dan nyamuk dewasa. "Kalau kita hanya mampu membunuh nyamuk dewasanya saja, Lantas bagaimana dengan fase lain dari nyamuk yang tentu akan menjadi dewasa?" ujarnya.

Maka sepatutnya masyarakat ikut berperan aktif dalam membantu pemerintah mengupayakan pencegahan penyakit yang dapat dipengaruhi oleh kondisi musim ini. Cara paling efektif memberantas wabah DBD adalah dengan cara ''memotong'' siklus perkembangbiakan nyamuk atau bahkan menghilangkan semua habitat nyamuk yang ada. Umur nyamuk rata-rata dalam keadaan normal sekitar 1 bulan berkembang biak dalam genangan air, penampungan air atau air hujan yang tertampung pada barang-barang bekas yang terlindung dari  sinar matahari langsung, seperti pada ban bekas, batok kelapa, potongan bambu, drum, kaleng, botol dan lain-lain.  

"Di sinilah peran seluruh anggota masyarakat semestinya, rajin menjaga kebersihan lingkungan hingga tidak memberi kesempatan berkembangnya telur nyamuk maupun larva nyamuk aedes aegypti," pungkasnya.  

Sementara itu, Plt. Kabid P2PL Dinkes Balangan, Hj. St. Raudah, SKM yang ditemui ditempat yang sama menuturkan, jumlah kasus DBD di Kabupaten Balangan terhitung Januari sampai bulan Nopember 2016 tercatat 148 kasus mendapat perawatan dan 1 meninggal.   

"Kasus DBD memang selalu ada di Kabupaten Balangan, dan hampir setiap bulan ada laporan penyakit demam berdarah yang mendapat pengobatan,"ujarnya.  

Ditambahkannya, negara-negara yang beriklim trofis memang habitat yang paling disukai oleh nyamuk untuk berkembang biak, sehingga salah satu negara dengan kasus penyakit karena gigitan nyamuk tertinggi di dunia, seperti demam berdarah adalah Indonesia.  

Risiko terbesar wabah penyakit DBD adalah daerah perkotaan yang memiliki sistem drainase kurang baik. Tanpa ada peningkatan curah hujan saja kondisi daerah perkotaan sudah rentan, apalagi dengan adanya peningkatan curah hujan disertai pemanasan intensif maka wabah demam berdarah akan semakin meningkat.  

"Untuk itu, bagi semua lapisan masyarakat, kami menghimbau untuk melaksanakan 3M Plus seperti menguras, menutup, mengubur, dan memberantas jentik serta menghindari gigitan nyamuk, dan ini paling efektif mencegah wabah demam berdarah," pungkasnya.[Rie]

: tanpa label

KOMENTAR

"Mewujudkan Masyarakat Balangan Sehat yang Merata dan Mandiri"