DINKES AJAK PENDERITA AIDS KE TRAKINDO, KARYAWAN ANTUSIAS PERIKSA HIV/AIDS

Admin Selasa, 08/11/2016 Internal 796 hits

Paringin-"Salam Semangat!!!",teriak M (26 th) dengan lantang di hadapan karyawan karyawati PT Trakindo di RISA Hauling Paringin Road KM.68 Balangan pagi tadi, Selasa (9/11).

AIDS BALANGANPria ceking dengan gaya punk ini mengaku penderita HIV positif semenjak 2 tahun yang lalu, sudah punya anak dan isteri, pernyataan ini jelas membuat karyawan-karyawati Trakindo yang setiap selasa melaksanakan General Safety Meeting tercengang akan pengakuan yang cukup berani tersebut.

"Pada awalnya Saya juga tidak mengetahui kalau tertular virus HIV, semua berawal ketika akan menikah," ujarnya lantang.

Dijelaskan olehnya pada saat akan menikah itu ada pemeriksaan kesehatan yang dilakukan di Puskesmas
"Darah saya diambil dan semua terjadi begitu saja, pada akhirnya dinyatakan positif HIV, jujur sangat berat rasanya,dunia serasa mau runtuh dan jatuh dikepala dengan kerasnya" terangnya.

Dengan penuh percaya diri ia terus bercerita, petugas kesehatan meyakinkan bahwa hanya ia dan petugas kesehatan yang tau, mereka meyakinkan bahwa pasti tidak seburuk apa yang dipikirkan.

KPAD KABUPATEN BALANGAN"Hidup harus dilanjutkan, memulai dengan Bismillah saya minum obat, sampai sekarang saya hidup sehat, dan mungkin karena kuasa dan kebesaran tuhan pula sehingga anak dan isteri saya sekarang bersih, tidak tertular HIV,ketahuan lebih dulu lebih baik dari pada terlambat,jadi periksakan saja diri anda,kira-kira bersediakah saudara-saudara mengikuti VCT?" pungkasnya.

"Bersedia!!!", jawab serempak karyawan dan karyawati PT. Trakindo Utama pagi tadi.

Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDs Daerah (KPAD)Kabupaten Balangan H.M.Zarkasyi yang ditemui di acara VCT di Perusahaan Trakindo memaparkan, selama ini HIV/AIDS memang memiliki dampak besar pada penderita, keluarganya, dan masyarakat.

"Nah KPAD adalah sebuah lembaga independent yang bertujuan untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanggulangan AIDs yang lebih intensif, menyeluruh, dan terkoordinasi di Indonesia," ujarnya.

KPAD KABUPATEN BALANGANDitambahkan olehnya, Voluntary Conseling and Testing (VCT) adalah salah satu bentuk upaya peningkatan pencegahan kasus HIV/AIDs, dan prosesnya terdiri dari konseling pra testing, konseling post testing, dan testing HIV secara sukarela yang bersifat confidental dan secara lebih dini membantu orang mengetahui status HIV.

Plt. Kabid P2PL Hj. St. Raudah, SKM menambahkan, Pada tahap pre konseling dilakukan pemberian informasi tentang HIV dan AIDS, cara penularan, cara pencegahan dan periode jendela.

Kemudian konselor melakukan penilaian klinis. Pada saat ini klien harus jujur menceritakan kegiatan yang beresiko HIV/AIDS seperti aktivitas seksual terakhir, menggunakan narkoba suntik, pernah menerima produk darah atau organ, dan sebagainya.

Konseling pra testing memberikan pengetahuan tentang manfaat testing, pengambilan keputusan untuk testing, dan perencanaan atas issue HIV yang dihadapi.

"Setelah tahap pre konseling, klien akan melakukan tes HIV," ujarnya.

Dijelaskannya pada saat melakukan tes, darah akan diambil secukupnya dan pemeriksaan darah ini bisa memakan waktu antara setengah jam sampai satu minggu tergantung metode tes darahnya, diagnosis didasarkan pada antibodi HIV yang ditemukan dalam darah.

Tes antibodi HIV dapat dilakukan dengan tes ELISA, Westren Blot ataupun Rapid.

"Setelah klien mengambil hasil tesnya, maka klien akan menjalani tahapan post konseling." Pungkasnya.

Kasi Pemberantasan Penyakit (P2) Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan, H. Abdullah Majidi, SKM menambahkan, apabila hasil tes adalah negatif (tidak reaktif) klien belum tentu tidak memiliki HIV karena bisa saja klien masih dalam periode jendela, yaitu periode dimana orang yang bersangkutan sudah tertular HIV tapi antibodinya belum membentuk sistem kekebalan terhadap HIV.


KPAD KABUPATEN BALANGAN"Penderita dengan periode jendela, ini sudah bisa menularkan HIV. Kewaspadaan akan periode jendela itu tergantung pada penilaian resiko pada pre konseling. Apabila klien mempunyai faktor resiko terkena HIV maka dianjurkan untuk melakukan tes kembali tiga bulan setelahnya," ujarnya.

Apabila pemeriksaan pertama hasil tesnya positif (reaktif) maka dilakukan pemeriksaan kedua dan ketiga dengan ketentuan beda sensitifitas dan spesifisitas pada reagen yang digunakan. Apabila tetap reaktif klien bebas mendiskusikan perasaannya dengan konselor. Konselor juga akan menginformasikan fasilitas untuk tindak lanjut dan dukungan.

"Misalnya, jika Penederita membutuhkan terapi ARV ataupun dukungan dari kelompok sebaya. Selain itu, konselor juga akan memberikan informasi tentang cara hidup sehat dan bagaimana agar tidak menularkannya ke orang lain," pungkasnya.

Pemeriksaan dini terhadap HIV/AIDS perlu dilakukan untuk segera mendapat pertolongan kesehatan sesuai kebutuhan bagi mereka yang diidentifikasi terinfeksi karena HIV/AIDS belum ditemukan obatnya, dan cara penularannya pun sangat cepat.

Memulai menjalani VCT tidaklah perlu merasa takut karena konseling dalam VCT dijamin kerahasiaannya dan tes ini merupakan suatu dialog antara klien dengan petugas kesehatan yang bertujuan agar orang tersebut mampu untuk menghadapi stress dan membuat keputusan sendiri sehubungan dengan HIV/AIDS. [Rie]

 

: tanpa label

KOMENTAR

"Mewujudkan Masyarakat Balangan Sehat yang Merata dan Mandiri"