LEBIH HATI-HATI DENGAN PANGANAN BERWARNA CERAH

Admin Kamis, 23/06/2016 Internal 1150 hits

Paringin - Makanan dengan warna-warna cerah memang menarik penglihatan mata dan menggugah selera. Tapi pernahkah Anda bertanya-tanya mengenai apakah pewarna yang digunakan aman atau tidak? Lalu apa bahayanya?


Rusmilawati, S.Si. Apt., kepala Seksi Farmasi, sarana dan prasarana Dinas Kesehatan Kabupaten Balangan memaparkan bahwa dari hasil pemeriksaan dilapangan masih ditemukan adanya makanan yang masih menggunakan bahan pewarna bukan untuk makanan atau minuman.

"Menurun memang, namun masih ada. Dari 10 sampel makanan dan minuman yang diambil secara acak pada tanggal 21 juni 2016 di pasar paringin, 1 diantaranya positif Rhodamin B", tuturnya.

Dijelaskannya, Rhodamin B dan Metanil yellow adalah pewarna bukan untuk makanan yang paling banyak dicampur dalam penganan di Indonesia, padahal ini diperuntukkan mewarnai tekstil, kertas, kain, kosmetik, produk pembersih mulut, dan sabun.

"Rhodamin B dapat terakumulasi di dalam tubuh, menyebabkan gejala pembesaran hati dan ginjal, gangguan fungsi hati, kerusakan hati, atau bahkan kanker hati, sedangkan Metanil yellow dapat menyebabkan iritasi saluran cerna, mual, muntah, sakit perut, diare, demam, lemah, dan hipotensi (tekanan darah rendah), dalam jangka panjang dapat memengaruhi sistem saraf pusat, dan kanker kandung kemih", pungkasnya.

Pewarnaan pada makanan dicampurkan untuk memberi warna pada makanan, meningkatkan daya tarik visual pangan, merangsang indera penglihatan, menyeragamkan dan menstabilkan warna, juga menutupi atau mengatasi perubahan warna.

"Makanan atau minuman yang menggunakan zat pewarna bukan untuk makanan biasanya sangat khas, diantaranya berwarna sangat cerah, mengkilap, dan lebih mencolok, warna tidak merata, ada gumpalan warna pada produk, bila dikonsumsi rasanya sedikit lebih pahit, biasanya pula produk tidak mencantumkan kode, label, merk, atau identitas lengkap lainnya", jelasnya.

Seperti yang kita ketahui, Pewarna makanan terbagi menjadi dua, yaitu alami dan sintesis (kimia). Pewarna alami terbuat dari tumbuhan, hewan, mineral, atau sumber alami lain.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.033 Tahun 2012 tentang Bahan Tambahan Pangan, daftar pewarna alami yang diperbolehkan adalah kurkumin, riboflavin, karmin dan ekstrak cochineal, klorofil, karamel, karbon tanaman, beta-karoten, ekstrak anato, karotenoid, merah bit, antosianin, dan titanium dioksida.

Sedangkan pewarna sintesis yang diperbolehkan, namun dibatasi penggunaannya, antara lain tartrazin, kuning kuinolin, kuning FCF, karmoisin, ponceau, eritrosin, merah allura, indigotin, biru berlian FCF, hijau FCF, dan cokelat HT. Pewarna makanan sintesis tersebut diperoleh secara kimia dengan mencampur dua atau lebih zat menjadi satu zat baru.

"Berhati-hatilah ketika membeli makanan atau minuman berwarna. Bisa-bisa bukan nutrisi yang Anda dapatkan dari penganan tersebut, melainkan penyakit yang dapat mengancam kesehatan tubuh. Pastikan produk-produk yang Anda konsumsi terdaftar di BPOM", pungkasnya. [Rie]


sumber photo :angpao888.com,www.kesekolah.com  

 

: tanpa label

KOMENTAR

"Mewujudkan Masyarakat Balangan Sehat yang Merata dan Mandiri"