CARA PUSKESMAS TEBING TINGGI MEMPERINGATI HARI MALARIA SEDUNIA

Admin Selasa, 26/04/2016 Internal 970 hits

Malaria jika disandingkan dengan dengan penyakit mematikan lainnya, termasuk salah satu yang paling ditakuti dari jajaran penyakit paling berbahaya di dunia.


Meski telat 1 hari, hari malaria sedunia yang diperingati setiap tanggal 25 April, hari ini dilaksanakan oleh kawan-kawan dari Puskesmas Tebing Tinggi  Kabupaten Balangan, siang tadi di Desa Kambiyain.

Idi Hidayat, AMK., pengelola program Malaria Puskesmas menjelaskan bahwa, hampir setiap tahun, kasus penderita malaria ditemukan oleh Puskesmas Tebing Tinggi, dan rata-rata penderitanya berasal dari Desa Kambiyain.

"permasalahannya para penderita di desa tersebut sebenarnya tertular dari daerah lain, misalnya sehabis datang dari wilayah Kotabaru.  kabarnya mereka mendulang emas atau bekerja di hutan disana, dan  pada saat kembali ke kampung halaman mereka jatuh sakit, dan dari hasil pemeriksaan kami mereka positif malaria", jelasnya.

Ditambahkan lagi olehnya, bahwa atas dasar kejadian tersebut, dapat diketahui bahwa pengetahuan masyarakat tentang Penyakit Malaria masihlah sangat rendah, maka diperlukan sosialisasi kepada masyarakat didaerah tersebut agar kejadian tersebut dapat dicegah dan tidak ada pengulangan kejadian lagi.

"dan harinya kami rasa sangat tepat, meski telat 1 hari, Hari Malaria Sedunia tetap kami laksanakan dengan kegiatan yang dapat mewujudkan Indonesia bebas malaria pada tahun 2030", tuturnya.

Meski sempat rintik hujan, namun semangat kerja sudah sampai ke ubun-ubun, berangkat juga siang tadi ke Kambiyain.

Desa kambiyain masuk kedalam daerah terpencil,satu daerah yang secara keturunan merupakan suku Dayak Pitap, kabupaten Balanngan.

kami bertiga naik berbonceng kendaraan roda dua, pengelola program, 1 Perawat dan Penulis.

Jejak aspal berakhir di Desa Auh, selanjutnya jalan berupa hasil pengerasan dengan batu kali beberapa tahun yang lewat, masih jauh panggang dari api kenyamanannya, guncangan disana-sini, namun gerimis beberapa saat yang lalu cukup membantu mengurangi jalanan sedikit bebas dari debu.

Sekitar 45 menit perjalanan, kami sampai di pasar Desa Kambiyain yang bukanya dadakan setiap hari selasa, persis di seberang Balai Adat.

Menurut masyarakat yang kami temui ditempat tersebut, acara sosialisasi tersebut diadakan di Balai bawah.

Artinya kami mesti melanjutkan perjalanan lagi, setidaknya sekitar 15 menitan lagi baru sampai ke Balai Adat Kambiyain Hilir, di bagian hilir.

Jalan itu pun berakhir, menyisakan jalan setapak, menyisir kebun karet, dan berakhir di sisi sungai, tak ada jembatan, hanya ada titian dari belahan pohon kelapa, kedalaman sungai ini pun hanyalah semata kaki, kendaraanpun kami sukseskan berenang sampai keseberang.



Rumah kader kesehatan, persis di samping kanan Balai Adat Desa Kambiyain, berada di sisi jalan setapak sebelah kiri.

Rumah-rumah penduduk dari kayu berjejer, nampak seperti diselimuti  rindang pepohonan, beberapa cahaya matahari nampak terhalangi , ruangan nampak sudah sesak dipenuhi masyrakat, ada bapak-bapak yang asyik mengepulkan asap rokoknya, sekelompok lainnya, ibu-ibu yang sebagian membawa balitanya asyik menyusukan anaknya, semua hal biasa sepertinya seperti itu, semua berjalan apa adanya, tak ada kerisihannya, semua biasa-biasa saja.

Namun bukan bermaksud keluar dari tujuan utama, jadilah ruangan agak remang tanpa bias matahari menjadi tempat sosialisasi, dan setidaknya, asap rokok di ujung sana telah berhenti, dan ibu-ibu diujung sana meski masih asyik dengan balitanya sedikit lebih tak riuh lagi.

Intinya, kami ada disana, berbagi cerita dan pengetahuan tentang malaria, mulai dari 3Mplus yang juga mencegah kejadian DBD, penggunaan lotion anti nyamuk di malam hari, memasang jaring atau kasa anti nyamuk, memasang kelambu pada saat tidur, menanam tanaman yang tidak disukai nyamuk seperti akar wangi dan serai wangi, juga menghindari daerah yang endemis malaria.

Namun bagi sebagian kaum lelaki, daerah tempat kemungkinan mereka terkena malaria juga merupakan bagian dari bakul nasi mereka, sehingga obat-obatan pencegahan yang biasanya diminum sebelum melakukan perjalanan dan kemudian diteruskan hingga pulang kedaerah asalnya lebih menarik minat.

Dengan penjelasan bahwa, obat-obatan tersebut haruslah di resepkan oleh dokter, masyarakat di sanapun menjadi maklum, dan semakin paham tentang pentingnya pergi ke puskesmas.

"Ke Puskesmas tidak hanya untuk berobat, namun juga untuk konsultasi , baik tentang pencegahan ataupun pengobatan", kata salah satu peserta.

Pada akhirnya, dari ujung kabupaten Balangan, tanpa ada jaringan internet yang menjadikan berita ini bisa langsung masuk ke Website, rekan-rekan dari Puskesmas Tebing Tinggi mengucapkan : SELAMAT HARI MALARIA SEDUNIA, SALAM [Rie]  

: tanpa label

KOMENTAR

"Mewujudkan Masyarakat Balangan Sehat yang Merata dan Mandiri"