PELATIHAN MANAJEMEN OBAT

Admin Senin, 13/02/2012 Internal 4723 hits

 

Pelatihan Manajemen Obat



Sesuai dengan perkembangan di bidang kefarmasian telah terjadi pergeseran orientasi pelayanan kefarmasian dari pengelolaan obat sebagai komoditi kepada pelayanan yang komprehensif dalam pengertian tidak saja sebagai pengelola obat, namun lebih luasnya mencakup pelaksanaan pemberian informasi untuk mendukung penggunaan obat yang rasional. Adanya pelatihan Manajemen Pengelolaan Obat ini merupakan salah satu upaya untuk mengantisipasi apa yang terjadi di lapangan.

Kegiatan Pelatihan Manajemen Pengelolaan Obat di kabupaten Balangan dipandang perlu dilaksanakan karena :

· Untuk meningkatkan pengetahuan di bidang manajemen pengelolaan obat di Puskesmas / jaringannya.

· Masih terdapat perbedaan pengelolaan logistic obat di antara Puskesmas / jaringannya.

· Belum optimalnya pengelolaan obat di Puskesmas.

Pelatihan ini meliputi Kepala Puskesmas , Tenaga Farmasi/Pengelola Obat Puskesmas dan Bidan Koordinator/Perawat dan materi yang disampaikan meliputi paparan materi dari narasumber Dinas Kesehatan Propinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kepala UPT Instalasi Farmasi Kabupaten (IFK) Balangan.

Adapun tujuan Pelatihan Manajemen Pengelolaan Obat di Kabupaten Balangan adalah :

· Menyusun rencana kebutuhan obat secara efektif dan efesien

· Melaksanakan permintaan obat dan perbekalan kesehatan sesuai kebutuhan

· Melaksanakan penyimpanan obat dan perbekalan kesehatan denganbaik dan benar

· Melakukan penendistribusian obat dan perbekalan kesehatan sesuai kebutuhan dan jadwal yang telah ditentukan

· Melakukan pencatatan dan pelaporan secara akurat

· Melakukan pembinaan, survise dan evaluasi pengelolaan obat di Pustu dan Poskesdes/Posyandu

Kegiatan Pelatihan Pengelolaan Obat yang dilaksanakan Oleh Kasie Farmasi, Sarana dan Prasarana ini menghasilkan beberapa kesepakatan :

1. Laporan paling lambat masuk tanggal 10 setiap bulannya, lplpo, 20 pemakaian obat terbanyak, formulir kompilasi data peresepan tingkat puskesmas (for), resep generik,psikotropika  & narkotika.

2. Untuk permintaan obat di pustu, poskesdes/polindes menggunakan lplpo sub unit yg dilaporkan ke puskesmas induk tiap tgl 25 setiap bulannya disertai dengan resep.

3. Petugas pengelola obat puskesmas melakukan monitoring  ke sub unit pelayanan kesehatan.

4. Administasi pengelolaan obat harus dilengkapi ( buku harian pengeluaran, kartu stok, buku register gudang ).

5. Stok optimal  lplpo wajib diisi oleh petugas penanggungjawab pengelola obat puskesmas mulai bulan  maret untuk 20 macam pemakaian obat terbanyak dan seluruh item obat dilaksanakan pada bulan  januari 2013.

6. Permintaan obat ke instalasi farmasi kabupaten ( ifk ) tiap 3 bulan sekali, apabila tidak mencukupi bisa menggunakan bon yang ditandatangani oleh kepala instalasi farmasi kabupaten ( IFK )  dengan diketahui oleh kepala dinas kesehatan kabupaten.

7. Pengelola obat harus mempunyai arsip administrasi selain data sistem informasi puskesmas ( simpus ).

8. Untuk obat syrup kering harus diserahkan setelah ditambahkan dengan air masak/matang ( aqua destilata ).

9. Tenaga farmasi puskesmas supaya dapat membuat brosur cara pemakaian obat khususnya  untuk obat tetes mata, tetes telinga, tetes hidung, suppositoria.

10. Obat ephedrin hcl ( golongan prekursor ), maka instalasi farmasi kabupaten dan puskesmas wajib melakukan pencatatan sebagaimana yang ditetapkan dalam pp no.44 tahun 2010 tentang prekursor ( dilaporkan pada pelaporan psikotropika ).

 

: tanpa label

KOMENTAR

"Mewujudkan Masyarakat Balangan Sehat yang Merata dan Mandiri"