^ Ke Atas
 
 
Anda berada di: Depan > Jamban Sehat Dan Budaya Lokal
Jamban Sehat Dan Budaya Lokal
Diposting pada: Selasa, 27/03/2012 | Hits : 3622 | Kategori: Kesehatan
 

Keadaan Desa Terpencil

Ketika pemerintah tengah merancang kebijakan baru bidang kesehatan khususnya kebersihan lingkungan bahwa pada tahun 2014 masyarakat akan dilarang sembarangan membuang tinja (buang air besar /BAB) ke tempat-tempat terbuka, seperti di kali, kebun maupun persawahan. Pasalnya, limbah tinja yang dibuang sembarang akan menggangu kesehatan dan sistem sanitasi penduduk, saya tersenyum sendiri, apa mungkin? Inilah sebuah pertanyaan yang ingin saya ungkapkan dalam tulisan ini.

Desa-desa di wilayah Kecamatan Tebing Tinggi tempatku bertugas hampir seluruhnya dialiri sungai. Urat nadi kehidupan masyarakat tidak terlepas dari milirnya air sungai. Sungai di desa ini tidak saja untuk pengairan sawah, ladang penduduk, akan tetapi untuk konsumsi sehari hari; air minum, memasak, cuci piring dan alat dapur, pakaian bahkan mandi dan BAB pun (buang tinja/kotoran) juga di sungai.

Jadi setidaknya sebelum tahun 2014, masyarakat masih mempunyai kesempatan untuk membuang hajatnya di sepanjang aliran sungai di belakang rumah-rumah mereka. Tak bisa di pungkiri memang ini lah salah satu kebiasaan yang menjadi budaya bagi bangsa kita, khususnya yang tinggal di pinggiran sungai atau kali. Kami dari Puskesmas sudah sering melakukan penyuluhan-penyuluhan, baik secara langsung, ataupun kegiatan promotif lain seperti lewat poster atau pamplet-pamplet kesehatan, bahkan dengan sistem pemicuan masyarakat, dengan harapan setelah dilakukan pemicuan akan menimbulkan perasaan malu, sehinggga tidak ada keinginan untuk mengulanginya lagi.namun kebiasaan ini masih tetap terulang dan berulang. Berbicara tentang kebiasaan, semua kegiatan tepi sungai ini adalah kebiasaan turun-temurun, yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Kultur masyarakat suku Banjar dan Dayak, secara turun temurun memang bermukim di sepanjang bantaran sungai, sungai adalah sumber penghidupan bagi mereka.

Ada cerita menarik yang saya alami ketika bersama rekan rekan sanitarian, pada saat mempromosikan jamban keluarga ke anak desa Dayak Pitap, Kambiyain. Kami berangkat ke desa ini dengan 2 orang Tim Pamsimas. Pertemuan diadakan di Balai Adat Kambiyain, dalam pertemuan ini di hadiri oleh para tetuha (pemimpin.red) adat dan kader – kader kesehatan.

Untuk mencapai desa ini hanya bisa dilakukan dengan 2 cara yaitu dengan jalan kaki dari Kecamatan Tebing Tinggi ± 7 KM, atau dengan menggunakan kendaraan roda 2, karena jalan-jalan disini masih berupa jalan tanah tanpa pengerasan, sehingga apabila musim penghujan, jalan – jalan disini akan berupa kubangan lumpur berwarna kemerahan. Mereka membangun pemukiman persis didepan sungai Kambiyain. Melihat keadaan sungai Kambiyain akan sangat berbeda dengan sungai – sungai yang biasa kita jumpai di kota – kota, sungai disini masih sungai perawan, airnya jernih, arusnya lumayan deras dan tidak terlalu dalam, bahkan karena begitu jernihnya sehingga kita dapat melihat sampai dasar sungai.

Menurut saya pemandangan seperti ini sangat jarang didapatkan, suara aliran sungai dan hembusan angin membuatku betah berlama – lama ditempat ini. Namun sayangnya, seperti halnya masyarakat yang mendiami daerah aliran sungai, budaya pinggiran sungai pun berlaku di tempat ini, segala kegiatan harian bermula dan berakhir ditempat ini, bermula seperti mandi, cuci, sumber air minum dsb, dan pada bagian akhirnya membuang segalanya pun berakhir ditempat ini pula.

Dalam pertemuan dengan para “tetuha” adat ini, kami mencoba mempromosikan tentang jamban sehat, sesuatu yang mungkin kedengarannya basi bagi sebagian orang, namun bagi penduduk yang berdiam di desa Kambiyain masalah jamban sehat mungkin kedengaran seperti hal yang sering terdengar namun sulit untuk dilaksanakan, budaya pinggir sungai sudah “mendarah daging” di tempat ini, untuk merubah sesuatu yang telah mendarah daging tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, meski tim pamsimas bersedia membantu pendanaan untuk pembangunan jamban sehat umum, namun masih banyak masyarakat yang masih belum siap menggunakannya, kami sempat bingung kenapa? telisik punya telisik ternyata ada keyakinan yang menyelimuti benak mereka kalau BAB dengan model seperti ini tabu dan mereka percaya akan terjadi hal-hal yang tidak baik. Mereka tidak ingin membuang hajat dalam satu tempat atau wadah(septic tank.red), mereka meyakini apabila hasil hajat mereka di buang dalam satu tempat ini akan menjadikan orang tersebut akan menemukan kesialan, akan menjadikan mereka selalu dalam sifat “panasan”, benar-benar sebuah dilema bagi kami semua, ternyata bukanlah hanya masalah keuangan yang menjadikan jamban sehat kurang begitu populer, kenyataan yang kami temui kini, jamban sehat haruslah  berbenturan dengan budaya.

Alam telah lebih dulu mengajarkan kepada mereka, kiranya kita harus menjawab ini semua. Kami termangu, apakah ini sebuah kebenaran, tetapi yang jelas ini adalah sebuah fenomena budaya.

 

Biodata penulis;

Nama : Herry, AMK.

Pekerjaan : Fasilitator Pamsimas Puskesmas Tebing Tinggi

Kab. Balangan

 

Posting Terkait Lainnya:

« Kembali