^ Ke Atas
 
 
Anda berada di: Depan > Kampanye Campak Dan Polio Tambahan Kcpt
KAMPANYE CAMPAK DAN POLIO TAMBAHAN (KCPT)
Diposting pada: Sabtu, 03/12/2011 | Hits : 18477 | Kategori: Internal
 

KAMPANYE CAMPAK DAN POLIO TAMBAHAN (KCPT)

KABUPATEN BALANGAN

18 Oktober s.d 18 November 2011

KAMPANYE CAMPAK DAN POLIO TAMBAHAN (KCPT) 2011

Campak adalah penyakit yang sangat potensial untuk menimbulkan wabah. Penyakit ini dapat dicegah dengan pemberian imunisasi campak. Sebelum imunisasi campak dipergunakan secara luas didunia hampir setiap anak dapat terinfeksi campak. Kasus campak dengan gizi buruk akan meningkatkan angka kematian campak. Indonesia adalah negara ke empat terbesar penduduknya di dunia yang memiliki angka kesakitan campak sekitar 1 juta pertahun dengan 30.000 kematian, yang menyebabkan Indonesia menjadi salah satu dari 47 negara prioritas yang di identifikasi oleh WHO dan UNICEF untuk melaksanakan akselerasi dan menjaga kesinambungan dari reduksi campak. Strategi untuk kegiatan ini adalah cakupan rutin yang tinggi (> 90%) di setiap Kabupaten/Kota serta memastikan semua anak mendapatkan kesempatan kedua untuk imunisasi campak.

Program imunisasi campak di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1984 dengan kebijakan memberikan 1 dosis pada bayi usia 9 - 12 bulan.  Saat ini kegiatan pengendalian campak di Indonesia adalah :

1. Imunisasi rutin :

a. Bayi usia 9 -12 bulan

b. Kegiatan BIAS pada anak kelas 1 sekolah dasar.

2. Imunisasi tambahan berupa Crash Program Campak pada anak Balita dan Catch Up Campaign pada anak sekolah dasar di daerah risti (resiko tinggi)

3. Penguatan surveilans campak

4. Memperbaiki manjemen kasus (Vitamin A dan Antibiotika)

Gambaran cakupan dari program imunisasi rutin pada bayi 9 bulan dan anak sekolah di beberapa provinsi sudah baik tetapi ada beberapa provinsi yang cakupannya masih rendah sehingga memerlukan upaya khusus. Berdasarkan laporan rutin dan hasil survei cakupan menunjukkan bahwa cakupan campak di level nasional belum mencapai target (90%) sesuai dengan target MDGs. Pada tahun 2005 sampai 2007  lebih dari 31 juta anak usia 6 bulan sampai 12 tahun di Indonesia telah menerima kesempatan kedua imunisasi campak  melalui kampanye campak yang dilaksanakan dalam 5 phase. Dari laporan kampanye campak ini didapatkan 294 (67% dari Kabupten/Kota mencapai target diatas 90%, 102 (23% Kabupaten/Kota mencapai 80-90%) dan 44 (10% Kabupaten/Kota dengan cakupan < 80%).

Tahun 2005 terjadi KLB polio di Indonesia total kasus polio liar adalah 305 di 47 Kabupaten/Kota dalam 10 provinsi. Adapun kasus terakhir di Aceh Tenggara yang terjadi pada tanggal 20 Februari 2006. Meskipun sudah tiga tahun tidak ditemukan kasus polio liar, berdasarkan survailans kasus AFP meningkat dari 1,26 pada tahun 2004 menjadi 2,44 pada tahun 2005 dan 2,46 tahun 2006.

Dari laporan AFP tahun 2006 sampai 2009 menunjukan bahwa persentase penderita yang tidak menerima imunisasi polio dan imunisasi polio tidak lengkap cenderung meningkat. Berdasarkan kondisi ini diperlukan kewaspadaan dan upaya pencegahan kemungkinan berulangnya KLB polio.

Berdasarkan kajian terhadap laporan cakupan imunisasi rutin dan tambahan, survey cakupan yang berkaitan dengan cakupan imunisasi serta data  surveilans campak dan polio, dipandang perlu melakukan pemberian imunisasi tambahan campak pada anak usia 9-59 bulan untuk pengendalian penyakit campak serta pemberian imunisasi tambahan polio pada anak usia 0-59 bulan untuk pengendalian penyakit polio di Indonesia.

Indonesia sudah mulai melakukan penguatan surveilans campak  sejak tahun 2007 dengan kinerja yang cukup baik dibeberapa provinsi walaupun di beberapa daerah masih ditemukan laporan insiden campak yang rendah dan tidak ada laporan KLB. Tahun 2008 surveilans campak berbasis kasus (case based surveilance) dimulai di Bali dan DIY, dan selanjutnya akan diperluas ke 10 provinsi lain pada tahun 2009.

Menurut data surveilans kasus campak tahun 2007 adalah 18.488 kasus dimana 84% diantaranya adalah anak yang tidak terimunisasi dan 44% kasus adalah anak dengan usia di bawah lima tahun. Pada tahun 2008 terdapat 14.148 kasus campak dimana 78% diantaranya adalah anak yang tidak terimunisasi dan 41% anak dengan usia di bawah lima tahun. Data surveilans juga menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara cakupan imunisasi yang tinggi dengan rendahnya kasus campak. Hal ini dibuktikan, pada tahun 2008 dari 367 spesimen kasus tersangka campak di DIY hanya satu yang positif campak, begitu juga di Bali dari 17 spesimen    tidak ada satupun yang positif.

Kebijakan reduksi campak di Indonesia diarahkan untuk menghilangkan kelompok rawan campak atau susceptible yang terdapat di usia Balita & usia sekolah. Untuk menghilangkan kelompok rawan di usia balita dengan dilaksanakan  crash program campak di desa risti (risiko tinggi) campak dan dilanjutkan dengan imunisasi rutin, sweeping dan BLF. Sedangkan untuk menghilangkan kelompok rawan di usia sekolah dilakukan catch-up campaign campak di sekolah dasar (kelas 1 s/d 6) yang dilanjutkan dengan  BIAS campak di kelas 1 SD pada tahun berikutnya.

Pengertian eradikasi  polio adalah apabila tidak ditemukan virus polio liar indigenous selama 3 tahun ber turut-turut di suatu region yang dibuktikan dengan surveilans AFP yang sesuai standar sertifikasi.  Strategi dalam eradikasi  polio yaitu 1). Imunisasi yang meliputi peningkatan imunisasi rutin polio, dan imunisasi tambahan (PIN dan Mop-up) 2). Mempertahankan AFP rate ≥ 2/100.000 pada anak < 15 tahun, 3). Pengambilan specimen yang adekuat dan tepat waktu pada semua kasus AFP, dan 4). Peningkatan kemampuan laboratorium di badan Litbangkes untuk kultur virus polio.

Landasan Hukum pelaksanaan Kampanye Campak dan Polio Tambahan (KCPT) Tahun 2011 :

a. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan

b. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

c. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

d. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 1611/Menkes/SK/XI/2005 tentang Pedoman   Penyelenggaraan Imunisasi

e. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor: 143/Menkes/SK/VI/2009 tentang Penyelenggaraan Kampanye Imunisasi Campak dan Polio Tambahan Secara Bertahap Tahun 2009 – 2011.

Kampanye campak, polio dan TT adalah penggerakan kelompok sasaran imunisasi untuk mendapatkan imunisasi campak dan polio  tambahan (tanpa memandang status imunisasi) serta imunisasi TT dengan didahului skrining sederhana  yang dilakukan atas dasar ditemukannya masalah dari hasil pemantauan atau evaluasi.

A. Tujuan

Tujuan penyelenggaraan Kampanye Campak dan Ploi (KCPT) adalah sebagai berikut :

a) Untuk menghilangkan kelompok rawan campak di daerah risiko tinggi

b) Menurunkan  kematian campak sebesar 90% pada tahun 2010 dibanding  tahun 2000.

c) Menjangkau anak yang belum mendapatkan imunisasi  polio dan campak pada pelayanan rutin

d) Memastikan tingkat imunitas di populasi cukup tinggi (herd immunity) dengan cakupan >95%.

e) Memastikan cakupan imunisasi polio tambahan yang tinggi (minimal 95%).

f) Menekan  jumlah kasus TN sampai <1 per 1000 kelahiran hidup.

B. strategi

  • Strategi Reduksi Campak dan  Eradikasi polio di Indonesia
  • Mencari inovasi baru berdasarkan analisa situasi setempat
  • Advokasi
  • Jejaring kerja dan koordinasi
  • Sosialisasi (kampanye )
  • Penguatan kapasitas (SDM, sarana pra sarana logistik)
  • Pemenuhan dana
  • Pemberdayaan masyarakat dan berbagai pihak terkait
  • Mobilisasi sumber daya sampai kelapangan
  • Monitoring dan evaluasi

C. Sasaran

Sasaran polio tambahan adalah  semua anak pada anak usia 0 - 59 bulan. Sasaran campak tambahan dan vitamin A adalah semua anak usia 9 - 59 bulan, termasuk pada anak usia taman kanak-kanak, di desa risiko tinggi campak.

D. Tempat Pemberian Imunisasi

Dilaksanakan di pos imunisasi, posyandu, puskesmas, puskesmas pembantu, Rumah Sakit,  dan tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya serta di sekolah taman kanak-kanak atau sekolah lain yang setara.

E. Jejaring Kerja dan Koordinasi

Jajaran kesehatan agar berkoordinasi dan menjalin kemitraan dengan berbagai pihak terkait untuk membentuk suatu wadah koordinasi sehingga jelas pembagian peranan tugas masing-masing  dalam rangka kelancaran penyelenggaraan kampanye imunisasi campak dan polio.

F. Pemenuhan Dana

Segala biaya yang timbul akibat penyelenggaraan kampanye imunisasi campak dan polio pada tahap pertama dan kedua di tahun 2009 dibebankan pada anggaran APBN, APBD dan BLN (GAVI, WHO dan Unicef) serta sumber dana lain yang sah sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sedangkan  untuk pelaksanaan kegiatan pada tahun 2010 dan 2011 dibebankan pada APBN untuk pengadaan vaksin dan alat suntik dan APBD provinsi serta kabupaten/kota untuk dana operasional.

G. Persiapan Kampanye

Menyusun Anggaran dan Rencana Kerja (Plan of Action and Microplanning). Puskesmas menyusun rencana kerja yang lebih rinci menurut petugas, tempat dan waktu serta bagaimana menjangkau sasaran (microplanning). Selanjutnya membuat peta daerah risiko tinggi dan lokasi pelayanan.

Pemetaan dan Jadwal Pelaksanaan, Kegiatan kampanye campak dan polio harus menjangkau semua sasaran imunisasi di wilayah kerja puskesmas sehingga petugas perlu mengetahui wilayah kerjanya dengan baik.

Mobilisasi dan Distribusi Dana Operasional

Advokasi, diseminasi informasi, Sebelum pelaksanaan kampanye, perlu dilakukan advokasi kepada Pemerintah Daerah tingkat provinsi dan kab/kota (Gubernur, Bupati/Walikota,DPRD provinsi dan kab/kota).

Diseminasi informasi juga perlu dilakukan kepada lintas sektor, lintas program, swasta, LSM, Organisasi profesi, Kepala Sekolah dan guru TK, media massa seperti koran lokal, radio RRI /swasta dan TV.

Penggerakan PKK dan kader kesehatan memberitahukan kepada ibu/keluarga balita tentang hari, tanggal, pos pelaksanaan kampanye.

Pemberitahuan kepada tokoh agama, tokoh masyarakat, pengumuman langsung melalui tempat-tempat ibadah (Mesjid, Gereja, Pura, Kelenteng dll). Pemasangan  spanduk ditempat-tempat yang strategis. Informasi melalui media cetak dan media elektronik tentang pelaksanaan kampanye.

Evaluasi Persiapan

Evaluasi persiapan sekurang-kurangnya dilaksanakan H-14 sampai H-1 dengan     menggunakan ceklist yang meliputi:

  • Sasaran proyeksi dibandingkan dengan sasaran hasil pendataan.
  • Logistik meliputi kecukupan vaksin dan pelarutnya , Vit A, ADS 0,5 ml & 5 ml, safety box, vaksin carier, cool pack, KIPI Kit, ketersediaan kapas, gentian violet, pedoman kampanye dan format RR.
  • Anggaran, seluruh puskesmas telah menerima dana operasional.
  • Tenaga dan Pelatihan, mengecek kesiapan  jumlah tenaga pelaksana dan supervisor yang terlatih serta tenaga kader yang telah dilatih.
  • Mengecek Pemetaan dan jadwal pelaksanaan diseluruh puskesmas.
  • Mengecek rencana dan jadwal kegiatan penggerakan masyarakat.

Sosialisasi dan Mobilisasi

a. Penyuluhan

Penyuluhan ini dimaksudkan agar seluruh sasaran dan orang tua/pengasuh memahami manfaat imunisasi campak, polio dan TT,  mengetahui waktu dan tempat pelayanan imunisasi untuk datang ke pos pelayanan imunisasi saat kampanye. Penyuluhan dapat dilakukan oleh petugas kesehatan, kader, atau pemuka masyarakat secara langsung dengan pendekatan perorangan yaitu pada saat pendataan (kunjungan rumah), maupun penyuluhan kelompok (pertemuan) atau melalui media komunikasi massa yang tersedia.  Pesan-pesan penyuluhan antara lain : tentang manfaat imunisasi campak polio dan TT, siapa sasaran imunisasi, kapan dan dimana pelaksanaan kampanye, cara penanganan bila terjadi KIPI.

b. Penggerakan masyarakat

Kegiatan penggerakan sasaran imunisasi mulai dilaksanakan dua minggu sebelum kampanye. Pada saat pendataan sasaran imunisasi, kader menyampaikan pesan-pesan pentingnya imunisasi dan mengajak agar sasaran dan orang tua /pengasuh  datang ke pos pelayanan yang telah ditentukan untuk mendapat imunisasi. Selain itu diharapkan peran dari lintas program (KIA dan Promkes di Provinsi/Kabupaten/kota ) dan lintas sektor dalam memberikan dukungan sarana dan prasarana untuk suksesnya kegiatan kampanye. Guru di sekolah dapat juga menyampaikan kepada para orang tua yang mempunyai anak usia sasaran kampanye campak dan polio agar anaknya mendapat imunisasi di pos pelayanan imunisasi.

Media sosialisasi mobilisasi seperti spanduk, poster atau leaflet dapat dimanfaatkan sebagai alat komunikasi informasi dan edukasi (KIE).

Dua hari menjelang kampanye, kader kembali mengingatkan sasaran dan orang tua/pengasuh untuk datang ke pos pelayanan imunisasi, dengan mengunakan surat undangan. (ari/P2PL)

Sumber : Bid. P2PL Dinkes Balangan

 

Posting Terkait Lainnya:

« Kembali