^ Ke Atas
 
 
Anda berada di: Depan > Catatan Dacil Tanjungan Jalamu Bagian Ii
CATATAN DACIL TANJUNGAN JALAMU (Bagian II)
Diposting pada: Sabtu, 03/12/2016 | Hits : 343 | Kategori: Kesehatan
 

Dari Tinggar, anak Desa Marajai yang merupakan dusun terujung yang bisa dicapai dengan kendaraan beroda 4, tanpa mempedulikan hujan yang turun dengan skala 0-5 adalah 3, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki. 

Dacil Dusun Tanjungan Jalamu Puskesmas Uren bALANGANJalan pertama yang harus dilewati memang berupa jalan setapak menyisir perkebunan kebun karet warga di kiri-kanan jalan yang telah disemen sejak awal tahun tadi, sehingga meskipun mendaki masih mudah untuk dilewati. Setelah berjalan selama kurang lebih 30 menit, hujan menyisakan gerimis saja lagi.

Tanaman karet warga yang berjejer rapi di kiri kanan jalan pun berakhir juga berganti dengan padang Pohon Pisang dan ilalang,demikian pula kondisi jalan berganti dari jalan bersemen ke jalan tanah merah khas pegunungan.

Masyarakat sekitar mengenal daerah yang merupakan bagian kawasan Meratus ini dengan sebutan Gunung Haliang, dengan embel-embel 'gunung' semakin menguatkan keadaan yang harus kami lewati saat itu.

Tepat juga keputusan Kepala Puskesmas Uren ini, tak terbayangkan melewati jalan setapak mendaki yang licin, lembek, dan gelap ini, apa mungkin ada yang akan menggunakan bintang-bintang sebagai penunjuk arah mata angin, atau mungkin lagi menggunakan kode asap dari api unggun untuk melawan rasa dingin, entahlah......

Pada akhirnya dengan sekian banyak pendakian di jalan terjal tanpa ada rambu dilarang terpeset, sehingga banyak teman-teman apalagi penulis meski mandi lumpur jalanan, sampai juga di Dusun Tanjungan Jalamu sebelum malam. Kalau ditotal 3 jam lamanya perjalanan kami untuk sampai di Dusun yang secara ke sukuan dihuni oleh Dayak Halong ini.

Ada 9 bangunan ditempat ini, termasuk bangunan SD kecil Tanjungan Jalamu, dan rumah yang merangkap Balai Adat. Balian menyambut kami dan naik kerumahnya yang merangkap Balai Adat, naik sebentar kami izin kepadanya untuk membersihkan diri di Sungai yang berada di ujung jalan dari Balai.

Aku lupa menanyakan apa nama sungai ini, yang jelas alirannya tidak terlalu deras, kedalamannya pun tidak sampai selutut, airnya sangat dingin juga jernih, sehingga kami bisa melihat bebatuan sekepalan tangan di dasar sungai dan sebesar orang dewasa menyembul di permukaan air, pohon-pohon besar yang entah apa namanya berjejer di sepanjang aliran sungai.

Jujur Selama perjalanan kami tidak hanya disuguhkan dengan pemandangan indahnya alam meratus, namun juga betapa keras kehidupan disana, dan sambil membersihkan diri tak henti-hentinya aku memikirkan ini semua dan seberapa beruntungnya mendapatkan kesempatan untuk bisa mengalaminya.

SD Kecil Tanjungan Jalamu, bangunan pertama yang ditemui apabila masuk ke Dusun ini merupakan satu-satunya fasilitas yang ada ditempat ini, dan kabarnya penyelenggaraan pendidikan pun hanya sampai pada tingkat 3, selanjutnya untuk menyelesaikan pendidikan harus melanjutkan ke Desa Induk di Marajai.

Usai Shalat magrib, Demang Adat yang sering ikut mendampingi tim kesehatan di Pelayanan Kesehatan Daerah Terpencil, Utaniansyah (53 Tahun) dan Balian Desa mengeluarkan Gandrang dan Kalimpat ke tengah balai.

Dacil Dusun Tanjungan Jalamu Puskesmas Uren bALANGANGandrang dan Kalimpat merupakan alat musik tabuh khas pegunungan meratus, bedanya nya hanya ada 3, apabila Gandrang Ukurannya lebih besar, maka kalimpat lebih kecil, selanjutnya untuk memainkannya Gandrang yang mempunyai 2 sisi bidang pukul dari kulit binatang ini, satu sisi di pukul dengan telapak tangan dan sisi pukul lainnya menggunakan tongkat kecil dari kayu, sedangkan kalimpat yang ukurannya lebih kecil dan hanya mempunyai 1 bidang pukul ini dibunyikan dengan 2 penabuh kecil dari rautan bambo atau rotan, perbedaan lainnya, apabila bahan untuk Gandrang adalah kayu suling-suling maupun cempedak, maka kalimpat dibuat dari bambu batung.

Ke-2 alat musik yang selalu menyertai upacara-upacara adat ini pun dibunyikan, isteri balian pun maju ketengah balai membawa bungkusan dari kain, setelah bungkusan kain dibuka,ternyata isinya adalah gelang berbahan kuningan yang digenggamnya dan digoyangkan sehingga menimbulkan bunyi bergemerincing, ia pun menari, tak lama lima menitan saja.

Kemudian ia menyerahkan kepada kami, jujur kami enggan menerima benda yang tentu sangat disakralkan oleh masyarakat disini, takut salah memberlakukan. Namun setelah diyakinkan oleh Balian dan Demang adat bahwa boleh saja digunakan apabila tujuannya untuk belajar,jadilah seusai magrib itu kami menerima gelang hyang dan ikut menarikan mengikuti hentakan kalimpat dan gandrang.

Genset dinyalakan menerangi balai dusun yang berada di tengah-tengah gunung kurihay dan wihayan di Desa Marajai Kecamatan Halong ini, diluar sangat gelap, beberapa masyarakat bersuluh sebagai penerangannya mendatangi balai, dentuman kalimpat dan gandrang pun berhenti. Pelayanan kesehatan pun dibuka malam itu, semua duduk di lantai balai, tidak ada nomor antrian, semua yang ada di balai mendekat kepada petugas kesehatan yang memegang spygmomanometer, ingin diukur tekanan darahnya.

Dacil Dusun Tanjungan Jalamu Puskesmas Uren bALANGAN"Setelah diukur tekanan darah, kami tanyakan adakah keluhan yang dirasakan, demikian pula kalau kami menemukan ada kelainan dari pemeriksaan awal, tinggal catat semua keluhan dan identitas pada kertas resep dan langsung disuruh menghadap dokter," kata Kepala Puskesmas Uren. 

Ditambahkannya bahwa semua pelayanan kesehatan yang diberikan gratis dan tidak dipungut biaya baik untuk tindakan termasuk obat-obatan. Utaniansyah, Demang Adat yang selalu mendampingi Pelayanan Kesehatan yang diselenggarakan di wilayah kerja Puskesmas Uren mengaku senang, puas dan merasa terbantu dengan kepedulian tenaga kesehatan selama ini.

"Jadi jarku, bila handak tulakan jangan kada bahabar, asal bahabar aku pastu tulak jua (jadi apabila dilaksanakan pelayanan kesehatan, harus memberi kabar kepada saya, supaya bisa ikut mendampingi_red)," ujarnya.

Ditambahkannya, ada sekitar 15 umbun atau kepala keluarga yang mendiami kawasan ini, namun karena rumah penduduk saling berjauhan, sehingga kemungkinan ada warga masyarakat yang masih belum tahu bahwa di Balai ada pelayanan kesehatan. "Subuh esok kaina kami suruh orang mamadahakan amun handak baobat supaya datang kasia (Besok subuh, kami suruh orang untuk menyampaikan kalau mau berobat bisa datang ketempat ini_red)," ujarnya.

Dacil Dusun Tanjungan Jalamu Puskesmas Uren bALANGANSelain kesibukan di tengah balai, kesibukan juga terjadi di bagian belakang balai. Beberapa petugas yang tidak ikut dalam pelayanan kesehatan kebagian tugas memasak. Susilawati, Bidan Desa yang malam itu tidak ikut memberikan pelayanan kesehatan, mengkoordinir anggota tim lainnya untuk mempersiapkan bahan-bahan makanan untuk dimasak.

"Bagi yang tidak ikut pelayanan, kebagian tugas masak. Semua bahan-bahan ini dibawa dari bawah dan dimasak ditempat ini," ujarnya sambil menyalakan kayu bakar. Setelah 2 jam pelayanan, masakan telah terhidang di ruang kecil belakang balai untuk dimakan bersama-sama.

Lebih kebetulan lagi pelayanan sudah selesai dan akan dilanjutkan besok sampai selesai. Makan malam harus kami selesaikan dengan cepat, selain karena lapar juga harus balapan dengan genset yang mulai ada tanda-tanda bahan bakar hampir habis. Benar juga, makan malam selesai, penerangan listrik bersumber genset itupun berhenti dan digantikan dengan cahaya lampu templok yang menjadikan ruangan balai temaram.

Kamipun mulai menggelar matras, namun belum ada niat untuk benar-benar istirahat, rebahan saja. Diluar alam lumayan terang, bulan dan bintang gemintang mencerahkan suasana malam itu, lolongan anjing di pelataran menyalak keras.[Bersambung]__ [Rie]

 

Posting Terkait Lainnya:

KOMENTAR

« Kembali