^ Ke Atas
 
 
Anda berada di: Depan > Catatan Perjalan Ke Dusun Nanai Bangun Negeri Puskesmas Tebing Tinggi Datangi Nanai
CATATAN PERJALAN KE DUSUN NANAI (BANGUN NEGERI PUSKESMAS TEBING TINGGI DATANGI NANAI)
Diposting pada: Sabtu, 05/11/2016 | Hits : 464 | Kategori: Kesehatan
 

"Selamat datang di Meratus"

Balai adat desa ajungKarena kesibukannya melayani masyarakat yang ingin diperiksa kesehatan, bincang-bincang malam itu di balai adat Dusun Nanai dengan Kasubag TU Puskesmas Tebing Tinggi M. Hazairin, S.Kep, diakhirinya dengan ucapan "Selamat datang di Meratus".

Ya, Dusun Nanai anak Desa dari Desa Ajung Kecamatan Tebing-Tinggi ini memang bagian dari pegunungan meratus.

Berada disebelah tenggara dari Kabupaten Balangan,secara kesukuan daerah ini didiami oleh warga dayak pitap, yaitu kelompok masyarakat yang terikat secara keturunan dan aturan adat, mendiami kawasan disekitar hulu-hulu sungai Pitap dan anak sungai lainnya.

Beberapa jam sebelumnya, dengan duduk menumpang mobil bak terbuka dibelakang selama 2 jam, sampai juga di Balai Adat Desa Ajung yang merupakan titik terakhir yang dapat dicapai dengan kendaraan roda 4.

Kalau sudah mendapatkan izin dari Kepala Desa atau para tokoh adat Dayak Pitap biasanya akan disarankan untuk memarkir kendaraan roda 4 di halaman balai, sedangkan kendaraan roda 2 biasanya dititipkan kerumah-rumah penduduk sekitar balai, sedangkan petugas kesehatan biasanya menitipkan kendaraan di bangunan Puskesmas Pembantu Desa Ajung.

Karena harus membawa logistik obat-obatan, jasa portir tentu sangat dibutuhkan, namun selama ini cukup banyak masyarakat Desa Ajung yang bersedia menjadi portir sekaligus juga penunjuk jalan.

Jalan menurun di Samping Pustu Ajung merupakan jalan utama menuju Dusun Nanai, ataupun menuju puncak hauk, perjalanan dilanjutkan dengan mengikuti alur sungai Pitap, kau akan melewati sebagian rumah penduduk dan keluar melewati perkebunan karet warga sampai menemukan persimpangan jalan setapak.

Batu Ajung Desa AjungJalan sebelah kiri merupakan jalan menuju Dusun Nanai, sedangkan jalan sebelah kanan adalah jalan menuju ke puncak Hauk.

Namun kami menyarankan untuk mengambil jalan sebelah kanan dulu sampai ketemu pinggir aliran sungai untuk beristirahat sholat ataupun makan.

Tempat ini disebut Batu Ajung, selain pemandangannya yang indah, aliran sungai yang jernih berarus deras, disini juga akan ditemui sebuah batu yang berukuran sangat besar berada persis di tengah-tengah sungai,selebihnya dari sini kita juga bisa melihat puncak Hauk nun jauh diatas sana.

Kami tinggalkan Batu Ajung, dan kembali persimpangan jalan dan mengambil jalan sebelah kiri, jalan setapak yang kami lewati masih mendatar saja, namun kalau sudah menemui pinggiran sungai, ini sebagai pertanda tamatlah jalan yang mendatar. Karena tak ada jembatan, kamipun menyeberangi aliran sungai Pitap tersebut

Kami cukup beruntung, seandainya saja kami terlambat 30 menit, sungai pertama yang terdalam hanya sepinggang orang dewasa itu tak mungkin bisa kami lewati, kedalaman air bisa menjadi 2 kali lipat dan menjadi sangat deras.

Sungai Pitap Desa AjungMenurut sang portir, pertanda permukaan air akan naik dan menjadi sangat deras tersebut biasanya ditandai dengan perubahan warna air yang menjadi keruh kemerahan, dan biasanya sering terjadi dikala musim penghujan, "amun sudah kaya itu, kami gin kada wani jua menyubaranginya (Kalau sudah seperti itu, kami saja tidak berani meneberanginya)," ujarnya.

Selanjutnya selain jalanan yang mendaki, masih ada 2 sungai lagi yang yang harus kami seberangi, dan aliran sungai yang terakhir merupakan yang terdalam sehingga tehnik menyeberangi sungai yang terakhir merupakan kombinasi jalan didalam air dengan kedalaman sepusar orang dewasa, dan sedikit dayungan apabila terpeleset karena terinjak batu-batu sungai yang licin.

Total perjalanan kalau mau dirata-ratakan, 2/8nya jalan yang mendatar,1/8 sungai, dan sisanya adalah jalan yang menanjak menyisi pinggir jurang yang berakhir di badan Sungai Pitap, namun sebenarnya perjalanan ini juga mengikuti aliran sungai kearah hulu, sehingga selain bebunyian dedaun tertiup angin yang akan menemani sepanjang perjalanan, juga bunyi arus sungai yang pecah menghantam bebatuan.

Namun seperti apapun itu, seperti halnya meratus didaerah lain, Meratus akan selalu indah setiap musim apa saja. Di daerah ini kau tidak akan bisa membedakan antara musim penghujan ataupun kemarau, semua sama saja.pada musim penghujan, kupu-kupu biasanya muncul dari balik semak-semak belukar dan anggrek tropika bergantungan di sela pepohonan. Di musim kemarau alam meratus akan begitu sempurnamelukiskan beragam warnanya.

Saat melintasi lereng gunung yang gundul, teman seperjalan dari Humas Setda Balangan yang kami panggil Mas Yoyok berujar, "Antara sedih atau prihatin, tapi boleh juga gembira, karena yang begini ini biasanya bekas ladang, atau mungkin akan difungsikan sebagai ladang. Artinya, kita sudah dekat dengan perkampungan. Harus dipahami, dekat itu relatif," ujarnya.

Ya, Istilah ‘dekat' disini, dipegunungan relatif memang, namun setidaknya dari ucapan masyarakat yang menyatakan bahwa untuk mencapai nanai hanya sekitar sejam setengah, kami harus mencapainya dengan waktu 3 jam 30 menit.

Salakan anjing menandakan perkampungan sudah didepan mata, benar juga....terdengar keriuhan dari warga masyarakat yang telah lama menunggu petugas kesehatan dan senyum Balian di depan Balai Adat, hari sudah menjelang magrib.

Balai Adat Dusun NanaiBalai Adat persis berada di sisi sebelah kanan Sungai Pitap, bebatuan yang sebelum-sebelumnya tampak bermunculan, hilang tertelan air sungai yang sudah tidak jernih lagi, keruh kemerahan, dan alirannya pun menjadi sangat deras.

Tim Pelayanan Kesehatan Daerah terpencil Puskesmas Tebing Tinggi dan Dinkes Balangan bekerja cepat, logistik obat-obatan dan berbagai peralatan kesehatan di bongkar dari wadahnya, sebagian mempersiapkan peralatan masak.

Mandi seperlunya, dan sebegitu selesai shalat magrib, pelayanan kesehatan dilaksanakan di Balai Adat, ada sekitar 9 Umbun atau 9 Kepala keluarga yang menempati Dusun Nanai ini, namun seperti yang dikatakan oleh Kasubag TU puskesmas Tebing Tinggi sebelumnya, bahwa bukan masalah angka yang menjadi perhitungan dalam pelayanan kesehatan daerah terpencil ini, namun bagaimana urusan wajib pemerintah ini bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat, dimanapun ia berada.
"ini saja sepertinya yang bisa kami berikan untuk pembangunan negeri ini,dan besok kita akan lanjutkan lagi," pungkasnya saat kami duduk dipelataran Balai Adat seusai pelayanan kesehatan malam itu, dan jam tangan kami sudah menunjukkan pukul 22.30 wita[Rie].

Sepertinya, catatan ini masih akan berlanjut..........

 

 

Posting Terkait Lainnya:

KOMENTAR

« Kembali