^ Ke Atas
 
 
Anda berada di: Depan > Melihat Sejarah Lain Dari Kunjungan Ke Puskesmas Lampihong
MELIHAT SEJARAH LAIN DARI KUNJUNGAN KE PUSKESMAS LAMPIHONG
Diposting pada: Rabu, 11/05/2016 | Hits : 2065 | Kategori: Pendidikan
 

Mendatangi puskesmas lampihong, memang selalu menarik, karena untuk datang kesana, kita seperti melakukan tapak tilas ke masa lampau. Sejarah mencatat bahwa nama Lampihong telah ada sebagai sebuah Banua dari distrik Balangan pada masa pemerintahan Sultan Adam, dan mungkin telah ada pula jauh sebelumnya.


Puskesmas Lampihong beralamat di Jl. Raya Lampihong No. 1, Kec. Lampihong, persisnya Desa Lampihong Kanan, satu desa setelah pusat kecamatan di Desa Simpang Tiga,  kecamatan lampihong.

Pada saat akan memasuki pusat kecamatan, kita akan disambut oleh salah satu mercu tanda, atau landmark kabupaten Balangan, yaitu jembatan Simpang Tiga yang menghubungkan Desa Hilir Pasar dan Desa Simpang Tiga.

Kasubbag TU Puskesmas Lampihong, Herliansyah menjelaskan bahwa jembatan ini dulu dib
uat sekitar tahun 1932 - 1933 di masa penjajahan Belanda.

"sebagai jalur utama yang menghubungkan Paringin - Amuntai, maka jembatan ini di bangun dengan sangat kokoh, dengan menggunakan teknologi kontruksi beton dan baja, serta kayu ulin," ungkapnya.   

Sebagai putra asli Lampihong, kalau berbicara tentang Puskesmas, ia pun mengenang bahwa seingatnya Puskesmas ini telah ada sejak tahun 70-an, bahkan ia pun pada saat pertama kali diangkat menjadi karyawan di puskesmas, ia merupakan 1 dari 4 orang petugas kesehatan yang ada disana.

"saat pertama kali bekerja disini dengan total 4 orang karyawan,kami bertanggung jawab terhadap Desa sekarang ini sejumlah 27 Desa, namun mungkin karena saat itu jumlah penduduk tidaklah sepadat sekarang ini, semuapun berjalan dengan sendirinya, namun kami juga menyadari, saat itu tenaga kesehatan memang sangat minim sekali", tuturnya.

Selanjutnya, ia mengaku, bahwa dengan kenyataan sekarang ini,sepertinya sebagian mimpi-mimpi dahulu kala mulai terpenuhi, semua desa telah ada Petugas Kesehatannya, bahkan terhitung tahun 2015, telah di naikkan status salah satu Puskesmas Pembantu di Puskesmas Lampihong, yaitu  Pustu Tanah Habang menjadi Puskesmas induk dengan wilayah kerja 7 Desa, Selebihnya Puskesmas Lampihong pun direncanakan menjadi Puskesmas Rawat Nginap, tentu ini akan semakin memudahkan masyarakat di Kecamatan Lampihong terhadap akses kesehatan.

"Semoga saja Puskesmas Lampihong akan lebih dikenal oleh masyarakat luar, sehingga timbul kecintaan terhadapnya, dan selanjutnya akan lebih banyak lagi orang yang rela hati mengabdi untuk masyarakat disini", harapnya.

Tak bisa dipungkiri wilayah kerja Puskesmas Lampihong memang selalu menarik, dan menyimpan sisa sejarah masa lalu.

Perjalanan ke Puskesmas Lampihong pun jadi tambah menarik, karena pada saat mengambil Photo Jembatan Simpang Tiga, Penulis Bertemu dengan Muhammad Noor Dhany, S.Pd.,Salah satu tenaga pendidikan sejarah pada salah satu sekolah swasta di Kabupaten Tabalong, yang mempunyai ketertarikan dalam penjelajahan sejarah di Kabupaten Balangan. Dan ia pun mengajak penulis untuk melihat sisa situs sejarah lainnya, diantaranya adalah Rumah Kuna.

"Rumah Kuna merupakan rumah atau tempat tinggal yang berarsitektur tradisional dan Eropa", katanya.

Ia juga menjelaskan bahwa setidaknya ada 3 rumah Kuna di kecamatan Lampihong, yaitu di Desa Simpang Tiga, dan Desa Hilir Pasar, yang dibangun sekitar tahun 1930an.

"Arsitektur Eropa pada Rumah Kuna terdapat pada penggunaan beton pada bagian depan dan lantai bangunan, sedangkan pada arsitektur tradisional ditegaskan dengan bangunan bentuk panggung, dan pintu tinggi, jendela kupu-kupu yang berbentuk angin-angin, selebihnya terdapat makam keluarga, juga kolam air di samping rumah", tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa pada beberapa rumah kuna, pada bagian depan rumah terdapat bangunan kecil seperti pos penjagaan, namun sebenarnya ini adalah rumah uang atau brankas yang digunakan untuk menyimpan uang hasil penjualan karet.

"Hal ini membuktikan bahwa wilayah Balangan secara umum pernah mengalami jaman kejayaan karet di masa kolonial Belanda", ungkapnya.

Saat kami akan berpisah, karena ia akan melanjutkan perjalanan ke Amuntai, dan penulis putar haluan ke arah Batu Mandi, Dhany demikian ia ingin dipanggil menjelaskan bahwa salah satu Rumah Kuna ini dalam masa revolusi tahun 1948-1949, pernah pula dipakai oleh Tentara Belanda sebagai markas pertahanan mereka.

"karena letak rumah kuna ini berada di pinggir jalan raya Amuntai-Paringin, dan hanya berjarak sekitar 100 M dari Sungai Balangan, maka mobilisasi pasukan lebih mudah, baik dari darat atau sungai. Sedang nasib para penghuni rumah mesti mengungsi kedaerah-daerah aman di pedalaman", pungkasnya. [Rie]

 

Posting Terkait Lainnya:

KOMENTAR

« Kembali